Jejak Penyakit Menular Seksual dan HIV/AIDS di Kabupaten Malang

Pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Malang yang mengalami peningkatan setiap tahun.(Ist)
Pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Malang yang mengalami peningkatan setiap tahun.(Ist)

NGANJUKTIMES, MALANG – Kabupaten Malang terus berupaya menekan angka penyakit yang sampai saat ini menjadi bagian perhatian pemerintah dan khalayak umum. Yakni, penyakit menular seksual (PMS) atau juga dikenal dengan istilah infeksi menular seksual atau IMS serta HIV/AIDS.

Dua penyakit yang sampai saat ini terbilang mengkhawatirkan dikarenakan jumlah pengidapnya terhitung besar di Kabupaten Malang. Jumlah yang menurut berbagai kalangan adalah angka yang terdeteksi. Di bawah kedua penyakit tersebut, khususnya HIV/AIDS, dimungkinkan jumlahnya lebih besar lagi. Ibarat gunung es yang hanya terpantau permukaannya saja.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS)  yang dilansir dari data primer Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, setiap tahun pengidap kedua penyakit ini mengalami peningkatan.
Tercatat, untuk IMS di tahun 2015, ada 2.164 warga Kabupaten Malang dan meningkat  tahun 2016 menjadi 2.167. 

Tahun 2017 penyakit kelamin yang umumnya ditularkan melalui hubungan seks yang tidak aman, baik melalui darah, sperma, cairan vagina, ataupun cairan tubuh lainnya itu mengalami penurunan jumlah menjadi 2.005. Penurunan tersebut didasarkan atas masifnya berbagai pendekatan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Malang selama ini. Walaupun, angka ribuan tersebut masih merupakan ancaman bagi generasi berikutnya.

Masih menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, pengidap IMS terbanyak selama 3 tahun lalu dipegang oleh Kecamatan Sumberpucung. Tahun 2015 sampai 2016, pengidap IMS mencapai 800 orang lebih di Sumberpucung. Baru  tahun 2017 Kecamatan Sumberpucung mampu menurunkan angka pengidap penyakit kelamin menjadi sekitar 600 orang. Sedangkan Kecamatan Kepanjen tahun tersebut menjadi wilayah terbanyak dengan pengidap penyakit kelamin sejumlah 694 orang.

Bagaimana dengan pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Malang? Ternyata nasibnya serupa, bahkan mungkin lebih mengerikan walau jumlah yang terdeteksi dalam hitungan ratusan orang.

Menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, secara grafik pengidap HIV/AIDS mengalami peningkatan jumlah. "Setiap tahun pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Malang mengalami peningkatan. Terutama di tahun 2018 lalu pengidap HIV/AIDS mengalami lonjakan tinggi dibanding tahun di belakangnya," kata Anita, kepala pengelola progam Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Malang, menyikapi persoalan tersebut.

Peningkatan jumlah pengidap HIV/AIDS, masih menurut Anita, bukan berarti sesuatu yang buruk. Bahkan, sebaliknya merupakan langkah positif. "Karena permukaannya semakin terkikis, sehingga penanganannya semakin baik," ujarnya.

Data KPA Kabupaten Malang mengenai pengidap HIV/AIDS terbilang berbeda dengan data dari Dinas Kesehatan. Bahkan, secara kuantitatif sangatlah mencolok. Data KPA menuliskan, tahun 2016 ada sebanyak 1.960 orang pengidap HIV/AIDS. Meningkat  tahun 2017 menjadi 2.247 jiwa dan tahun 2018 kembali melonjak menjadi 2.497 jiwa.

Sedangkan dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, tahun 2016 pengidap HIV/AIDS hanya 245 dan tahun 2017 menjadi 287. Sedangkan data tahun 2018 masih belum terpublikasikan secara jumlah pengidapnya secara positif.

Kondisi tersebut lepas adanya perbedaan data jumlah antara berbagai lembaga dan menjadi bagian persoalan yang tidak pernah selesai sampai tahun ini. Persoalan IMS dan HIV/AIDS menjadi pekerjaan rumah besar  bagi pemerintah Kabupaten Malang melalui Dinas Kesehatan. Selain persoalan stunting serta beberapa penyakit tahunan yang kerap merenggut nyawa warga, seperti demam berdarah (DBD), diare dan suspect TB.

Untuk jumlah pengidap HIV terbesar sampai tahun 2017 lalu, menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, ada di Kecamatan Singosari yaitu sebanyak 18 orang. Disusul Kecamatan Kalipare sebanyak 16 orang dan 3 orang di antaranya sudah meninggal dunia.

Kemudian Turen dan Sumbermanjing Wetan masing-masing sebanyak 15 orang. 3 orang  meninggal dunia di Turen. Serta 14 pengidap HIV di Kecamatan Poncokusumo, 3 orang di antaranya meninggal dunia. Sedangkan kecamatan paling sedikit adalah Kecamatan Dau, dan Kecamatan Tajinan. Masing-masing kecamatan ada satu pengidap.

Sedangkan menurut data KPA, para pengidap HIV/AIDS didominasi oleh kalangan wanita pekerja seks komersial (PSK). Jumlahnya mencapai 410 jiwa. Sementara sisanya dari  berbagai latar belakang pekerjaan seperti sopir truk dan pekerja dari perantauan.

 

Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]nganjuktimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]nganjuktimes.com | marketing[at]nganjuktimes.com
Top