Mengintip Pembuatan Kue Patola, Jajanan Khas Banyuwangi untuk Bulan Ramadan

Istifalah sedang menata kue patola buatannya.
Istifalah sedang menata kue patola buatannya.

NGANJUKTIMES, BANYUWANGI – Banyuwangi memiliki berbagai jajanan khas bulan Ramadan. Salah satunya adalah latola. Kue ini menjadi sajian untuk berbuka puasa yang paling disukai masyarakat Banyuwangi, khususnya warga Using, suku asli Banyuwangi. 

Jajanan ini terbuat dari bahan dasar tepung beras. Kue ini memiliki bentuk mirip mi. 

Jajanan ini umumnya berwarna merah muda, hijau dan putih. Kue ini biasa disajikan dengan campuran santan yang sudah dipadukan dengan gula merah. Rasanya sangat lezat disajikan dalam keadaan hangat. Namun tidak kalah nikmatnya jika disajikan dalam keadaan dingin. 

“Kami hanya membuatnya pada bulan puasa saja karena kue ini memang khas untuk bulan puasa,” kata Istifala, (51), salah seorang pembuat kue patola.

Warga Lingkungan Kaliasin, Kelurahan Karangrejo, Banyuwangi, ini menyatakan, untuk membuat patola, tepung beras terlebih dahulu dikukus. Setelah mencapai kematangan yang diinginkan, tepung beras kemudian dicampur dengan air. Selanjutnya diaduk sehingga menghasilkan adonan yang diinginkan.

Pembuatan adonan ini merupakan proses yang paling penting. Sebab, butuh keahlian khusus agar mendapatkan tekstur yang lembut dan kenyal.

Untuk patola yang berwarna, tinggal ditambahkan pewarna makanan secukupnya saat pembuatan adonan. Pemberian pewarna juga harus dilakukan sedikit demi sedikit agar warna patola sesuai keinginan. “Adonan kemudian dicetak dengan cara manual menggunakan alat khusus yang terbuat dari besi,” beber Istifala.

Patola yang sudah jadi kemudian diletakkan pada lembaran daun pisang hingga mencapai 15 patola tiap lembarnya. Selanjutnya patola dikukus lagi selama kurang lebih 20 menit agar patola ini matang. Setelah itu kue patola siap untuk dijual atau dikonsumsi dengan kuah santan yang sudah dicampur dengan gula. Selembar daun pisang berisi 15 patola hanya dipatok seharga Rp 5 ribu.

Pada bulan Ramadan, halaman rumah Istifala disulap menjadi dapur untuk pembuatan patola. Dia dibantu suaminya, Junaidi. Ada juga anak perempuan dan dua saudaranya yang ikut membantu membuat kue patola. Biasanya dia mulai membuat kue sekitar pukul 15.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. “Sehari saya menghabiskan tepung beras sebanyak 40 kg,” ungkapnya.

Perempuan ini sudah membuat kue patola sejak berumur 10 tahun. Ketika itu dia membantu ibunya yang juga pedagang dan pembuat patola. Istifala pun meneruskan usaha pembuatan kue patola hingga saat ini. Dalam sehari omset penjualan kue patola yang digelutinya mencapai kurang lebih Rp 950 ribu.

Selain dijual ke pedagang yang berjualan di Pasar, kue patola buatan Istifana juga dijual langsung kepada konsumen. Sejak sore, sudah banyak pembeli yang datang ke rumahnya untuk membeli kue patola. “Kue ini adanya di bulan Ramadan saja, rasanya enak dan pas untuk menu berbuka,” kata Istanto, salah seorang pelanggan kue patola Istifana.

Pewarta : Muhammad Hujaini
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Banyuwangi TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]nganjuktimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]nganjuktimes.com | marketing[at]nganjuktimes.com
Top