Muhammad: The Messenger of God, Film Religi Kelas Hollywood dengan Taburan Fatwa Larangan Edar

Film Muhammad : The Messenger of God (Ist)
Film Muhammad : The Messenger of God (Ist)

NGANJUKTIMES, MALANG – Tahun 2015 lalu, sebuah film epik Islam dari Iran tentang kisah Nabi Muhammad saw, sempat membuat masyarakat Islam dunia terpecah dua.

Satu sisi menyambutnya dengan begitu riang sampai ribuan penonton berjubel untuk melihat kisah kanak-kanak sang Nabi Saw. Bahkan banyak yang harus kembali pulang rumah saat tidak kebagian tiket. 

Di sisi lainnya, film Muhammad: The Messenger of God juga mengundang banyak kecaman dan fatwa haram dari berbagai kalangan. Sebut saja Dekan Fakultas Teologi Universitas Al-Azhar, Kairo, Abdulfatah Al-Awari, yang melarang film ini karena dianggap "merendahkan" kesucian sang utusan Tuhan. 

Lantas Mufti Agung Arab Saudi Abdul Aziz ib Abdullah Al-Shaykh mengutuk film ini karena terkesan "menghina" nabi  dan "melemahkan peran penting" yang dimainkannya dalam Islam. Organisasi Liga Muslim Dunia, yang diwakili Abdullah bin Abdulmohsen Al-Turki, juga mengkritisi penggambaran fisik Nabi. Di India, Raza Academy juga mengeluarkan fatwa melarang film ini. Walhasil, film ini agak susah di pasaran, tetapi versi ilegalnya muncul di dunia maya.

Lantas seperti apakah film Muhammad: The Messenger of God besutan Majid Majidi, sutradara besar Iran yang acap mengangkat tema anak-anak (Children of Heaven, Color of Paradise, Baran) dan problematika keluarga kelas menengah ke bawah (Pedar, Song of Sparrows), menafsirkan kisah hidup Nabi Muhammad, manusia paling paripurna dan mulia ini.

Dari berbagai pandangan para kritikus film, garapan Majidi terkait masa kanak-kanak Nabi Muhammad, merupakan kompromi yang sempurna antara daya kreatif seni dan hukum syariat. Bahkan, bisa disebut inilah film religi Islam dengan kelas Hollywood. Digarap orang-orang profesional dan ternama di perfilm-an, seperti sineas internasional yang pernah memenangkan Academy award dan Oscar, Vittorio Storaro (Sinematografer peraih Oscar untuk Apocalypse Now, 1979; Reds, 1981; dan The Last Emperor, 1987) dan AR Rahman sebagai sinematografer dan penata musik (peraih Oscar, Grammy Awards, dan Golden Globe untuk film Slumdog Millionaire, 2009).

Film Muhammad: The Messenger of God menampilkan sesuatu yang luar biasa dan tentunya menjadi film termahal dalam sejarah Iran, yakni menghabiskan biaya sekitar US$40 juta (Rp560 miliar lebih).

Di satu sisi,  Majidi juga sudah terlatih sejak 1980-an untuk mengakali film agar tidak melanggar aturan agama yang ketat. Sebuah film yang tak hanya puitis, melainkan membuat haru karena kita ditarik ke semesta lain: Mekkah pada 570-an; era kanak-kanak Rasulullah. Begitulah pendapat Ekky Imanjaya, Kandidat doktor kajian film, University of East Anglia, dosen jurusan film Universitas Bina Nusantara Jakarta, waktu itu.

Dukungan Republik Islam Iran serta masukan para ulama Syiah dan Sunni sebagai penasihat, dari Aljazair, Maroko, Lebanon, dan Irak.  Majidi juga berkonsultasi dengan Ayatullah Ali Khamenei (pemimpin spiritual tertinggi Iran), Ali Al-Sistani, Ayatullah Wahid Khorasani, dan filsuf Iran Ayatullah Jawadi Amuli, serta kalangan Sunni seperti Hayrettin Karaman dari Turki.

Lantas kenapa film dengan kelas Hollywood serta melalui rangkaian riset dan nasehat para ulama Iran, tetap membuat berbagai kalangan lainnya mengeluarkan fatwa haram atau larangan dengan peredaran film itu.

Dari cuplikan film tersebut, dalam setiap adegan Nabi Muhammad kecil, wajah dan tubuhnya dibaluri cahaya yang menyilaukan mata, kecuali bagian kaki dan tangan. Saat balita dan menjelang remaja, Nabi tak pernah diperlihatkan wajahnya, hanya dari belakang terlihat sosoknya yang berambut gondrong dan berbusana serba putih cemerlang. Untuk suara, ada sedikit dialog yang diucapkan, yang tak terdengar tapi digantikan dengan teks. 

Ekky juga menyebut film berdurasi nyaris 3 jam ini pun menggambarkan Muhammad kecil sebagai sosok penuh kasih sayang, khususnya kepada para budak dan golongan tertindas. Majidi berhasil keluar dari perangkap visual dalam mewujudkan sosok Nabi Muhammad yang dilarang untuk ditampilkan wajahnya tersebut.

"Beragam reaksi yang mengharamkan film ini dengan pelbagai pertimbangan. Dan, fakta bahwa pembuatnya adalah seorang warga Iran yang Syiah dan didukung penuh oleh negaranya, seakan-akan makin menambah daftar “dosa” film ini," tulisnya.

Selain hal itu lahirnya fatwa yang melarang film itu beredar luas, mengutip Lesley Hazleton (penulis The First Muslim), dikarenakan kaum Sunni punya aturan lebih ketat soal penggambaran Rasulullah. 

Ada dua cuplikan yang membuat film Muhammad: The Messenger of God film menjadi film pertama sejak Ar-Risalah (The Messenger) yang disutradarai Moustapha Akkad pada 1976. Tervisualisasi begitu puitis dan emosional, khususnya bagi pencinta Nabi, melihat junjungannya dipresentasikan secara visual, meski tetap tak memperlihatkan wajah, tak sekadar huruf “Muhammad” dalam lingkaran.

Cuplikan pertama menggambarkan di suatu malam, Muhammad kecil tak dapat memejamkan mata, lantaran suara rintihan para budak yang kehausan. Tangan kaki dirantai, sementara pakaian mereka kumal dan tubuh menggigil. Muhammad yang tak kuasa menyaksikan pemandangan itu menghabiskan malamnya dengan mengisi gerabah air dan menuangkannya ke dalam mulut-mulut kering mereka. Dari balik tabir tenda, Aminah, sang bunda, menyaksikan dengan mata berkaca-kaca.

Di bagian lain, terlihat saat Muhammad yang mulai beranjak remaja tengah menggembalakan kambing-kambing di padang sabana. Suara gaduh pertengkaran perempuan dan laki-laki menggelisahkannya. Berjalanlah ia mendekati arah suara. Ternyata, mereka pasangan suami istri yang sedang meributkan kelahiran bayi perempuan. Si ayah yang merasa itu aib ingin menguburkan bayi hidup-hidup, namun sang Ibu yang susah payah mengandung dan melahirkannya tak rela dengan perbuatan si suami. Muhammad datang menggendong bayi perempuan cantik yang hampir di kubur hidup-hidup. Dengan lemah lembut, ia menunjukkan kepada si ayah betapa cantik bayi perempuannya itu. Ajaib, amarah lelaki itu mulai mereda. 

"Dua potongan dalam film itu mewakili janji Majidi untuk menampilkan kehidupan Rasulullah yang welas asih," tulis Ekky. 

Majidi pun pernah menyampaikan, film Muhammad: The Messenger of God, bermula dari semangat dakwah di industri film global dan melawan Islamofobia di Barat, khususnya sesudah kasus kartun Denmark—yang membuat Majidi menarik film Willow Tree (2005) dari festival film di Denmark sebagai aksi protes. 

Majidi,  ingin menggarisbawahi bahwa Nabi Muhammad adalah sosok yang welas asih, bahkan jauh sebelum Ia menikah pada usia 25 tahun dan diangkat menjadi Nabi pada umur 40 tahun. 

"Di beberapa bagian kita akan melihat perpaduan gambar dan musik yang luar bisa, seperti saat penyerangan pasukan Gajah ke kota Mekkah, saat melukiskan suasana khidmat kelahiran Nabi Muhammad, atau episode menjelang akhir, saat para sahabat berjalan membawa lampu-lampu tempel dengan latar suara wahyu dari langit. Benar-benar membawa emosi kita seolah masuk dan menjadi bagian dari potongan film itu," tulis Ekky yang menyayangkan saat itu, film dengan sarat pesan kuat tentang Islam sejak awal telah mendapat sambutan buruk dari berbagai kalangan, terutama para ulama konservatif di beberapa negara Arab. 

"Di antara alasan yang kerap dilontarkan adalah munculnya sosok Nabi Muhammad dalam film itu, dianggap mengurangi kesakralan Nabi. Walaupun sebenarnya, kekhawatiran itu tidak terlalu mendasar, karena meskipun sosok kanak-kanak Nabi ditampilkan, hanya tampak belakang dan samping, sementara bagian muka tetap tidak diperlihatkan," tutup Ekky.

Pewarta : Dede Nana
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]nganjuktimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]nganjuktimes.com | marketing[at]nganjuktimes.com
Top