Teroris Sepenuhnya Pensiun? Mungkinkah? Begini Kata Pakar Terorisme dari Amerika

Julie Chernov Hwang. (Foto: istimewa)
Julie Chernov Hwang. (Foto: istimewa)

NGANJUKTIMES, MALANG – Aksi terorisme di mana pun memang harus dikutuk dan ditindak tegas. 

Terorisme yang hakikatnya membuat kerusakan bukanlah merupakan bagian dari agama. 

Lantas bagaimana apabila di lingkungan kita terdapat mantan narapidana teroris?

Kita bisa membantu bekas narapidana teroris (eks-Napitor) agar tidak kembali menjadi teroris dengan membentuk jaringan sosial alternatif untuk mereka.

Hal itu disampaikan Julie Chernov Hwang, seorang guru besar ahli terorisme dari University of California, Amerika Serikat saat membedah bukunya “Why Terorist Quit: The Disengagement of Indonesian Jihadist”.

Julie yang selama bertahun-tahun menekuni masalah terorisme mengatakan ada empat faktor dasar yang mampu membantu eks-Napitor kembali berdaya di masyarakat.

Pertama, faktor kekecewaan. Faktor ini merupakan faktor internal di mana Napitor mulai merasa kecewa terhadap strategi, ideologi, sosok pemimpin, taktik, dan sebagainya.

“Ia akan mencari jalan lain yang membuat dirinya bisa berdaya kembali,” ujar Julie belum lama ini di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Setelah merasa kecewa, eks-Napitor akan mulai menimbang dan menilai akibat serta kebermanfaatan apa yang didapat.

Faktor kedua ini, kata Julie, masih merupakan faktor internal yang harus dimulai dari kesadaran seorang Napitor itu sendiri.

Di sini, Napitor sudah mulai mempertanyakan relevansi tindakannya, kebaikan zaman dulu dan zaman sekarang, juga memikirkan konteks kebaikan yang relevan dengan kondisi sekarang.

Ketika sudah mulai menyadari bahwa sudah saatnya Napitor berhenti, Ia harus mempunyai jaringan sosial baru. 

Jaringan sosial baru ini merupakan faktor ketiga yang disebut oleh Julie sebagai faktor jaringan sosial alternatif.

“Di sini kita bisa berperan dengan menerima eks-Napitor sebagai teman biasa, tanpa melihat masa lalunya. Dengan begitu mereka akan merasa nyaman untuk tinggal,” beber Julie.

Setelah mendapat jaringan sosial alternatif, ia sudah bisa mengandalkan orang lain selain teman-temannya saat masih menjadi Jihadis dulu.

Selain itu, ada satu faktor penting (keempat) yang mendasari agar ia berhenti menjadi teroris kembali, yaitu faktor ganti prioritas. 

Seperti pekerjaan, hubungan sosial baru, ajaran baru, dan masa depan baru sehingga ia bisa benar-benar meninggalkan ideologi yang dulu pernah dianut.

Pewarta : Imarotul Izzah
Editor : Heryanto
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]nganjuktimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]nganjuktimes.com | marketing[at]nganjuktimes.com
Top